Nganjuk (23/2). Memasuki awal bulan suci Ramadan, Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono menjadi tuan rumah kegiatan silaturahim perguruan pencak silat se-Kecamatan Kertosono. Kegiatan yang digelar pada Kamis (19/2/2026) di Ponpes Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur ini menjadi ajang mempererat ukhuwah dan memperkuat persaudaraan antarperguruan, sekaligus dihadiri Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany.

Acara tersebut dihadiri para pendekar, pelatih, tokoh masyarakat, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam). Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk membangun komunikasi, menjaga persatuan, serta meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga kondusivitas wilayah Kecamatan Kertosono.

Camat Kertosono, Widi Cahyono, menjelaskan bahwa latar belakang diadakannya kesepakatan bersama antarperguruan pencak silat ini berawal dari upaya Forkopimcam Kertosono dalam menjembatani dan mengoordinasikan berbagai perguruan yang ada di wilayah tersebut. Inisiatif ini, lanjutnya, digagas bersama pihak kepolisian dengan membentuk wadah bernama Pendekar Anjuk Ladang Melindungi Rakyat (Palmera).

Anjuk Landung sendiri memiliki makna berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “Tanah Kemenangan”. Anjuk berarti kemenangan atau tinggi, dan Ladang berarti tanah. Nama ini merujuk pada Prasasti Anjuk Ladang (937 M) dari Raja Mpu Sindok, yang merayakan keberhasilan warga setempat membantu kerajaan mengusir musuh, dan menjadi cikal bakal nama Kabupaten Nganjuk.

“Harapannya, beberapa perguruan ini bisa kompak, bersatu, dan bersama-sama mewujudkan Kamtibmas yang aman, tenteram, tertib, dan terkendali, serta meminimalkan terjadinya gesekan maupun perkelahian antarperguruan. Oleh karena itu Palmera ini didirikan dan dibentuk,” ujarnya.

Lebih lanjut, Widi Cahyono menekankan pentingnya peran tokoh agama dan lembaga pendidikan, termasuk pesantren, dalam menciptakan suasana aman dan damai. Menurutnya, agama merupakan pondasi hidup yang mengajarkan norma-norma kebaikan dan harus dipahami oleh setiap insan, termasuk para pendekar, “Setiap perguruan pencak silat, pendekar, dan insan persilatan harus berpedoman pada norma-norma agama yang mengedepankan silaturrahim, kebersamaan, dan kedamaian dalam setiap gerak dan langkahnya,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh anggota perguruan dan masyarakat Kertosono agar terus menjalin kebersamaan. Bersama Forkopimcam, Kapolsek, Danramil, serta tokoh masyarakat, pihaknya berharap seluruh perguruan pencak silat dapat bersinergi mewujudkan wilayah Kecamatan Kertosono yang aman, tenteram, tertib, dan damai, sekaligus mendorong prestasi dan perkembangan positif bagi dunia persilatan.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono, Habib Ubaidillah Al Hasany, berharap kegiatan silaturrahim tersebut mampu mengubah stigma bahwa pencak silat identik dengan kekerasan, “Yang kami harapkan, keras itu hanya dalam pukulan dan tendangan pada jurus-jurusnya, bukan keras hatinya. Hatinya harus lembut (layyina), sehingga kehadirannya di tengah masyarakat menciptakan kedamaian lahir dan batin,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa meski berbeda perguruan, seluruh insan persilatan tetap satu nusa dan satu bangsa. Karena itu, perbedaan tidak boleh memicu perkelahian antarsuku, antarbahasa, maupun antarperguruan, melainkan harus menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terkait pembinaan karakter generasi muda, Habib Ubaidillah juga membuka peluang kolaborasi antara pesantren dan perguruan pencak silat. Ia menyampaikan di lingkungan Ponpes Al Ubaidah telah tersedia gedung olahraga (GOR) yang dapat dimanfaatkan bersama, “Tidak hanya untuk Persinas ASAD saja, tetapi semua perguruan pencak silat yang ada di Kecamatan Kertosono, bahkan Kabupaten Nganjuk, kami persilakan menggunakan tempat ini. Semoga menjadi jariyah bagi kami dan membawa manfaat untuk kita semua,” pungkasnya.