Pondok Pesantren (Ponpes) Millenium Alfiena di Lengkong, Nganjuk, Jawa Timur menghelat upacara bendera untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Pelaksanaan upacara tersebut menjadi salah satu pijakan untuk menanamkan kedisiplinan dan nilai-nilai persatuan bagi para santri.
Kegiatan yang dihelat pada Kamis (1/10/2026) tersebut mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Para peserta terdiri dari 537 santri dan 40-an guru serta para pengurus ponpes tersebut. Persiapan upacara dilakukan secara bertahap selama kurang lebih satu bulan. Para santri yang dipercaya menjadi petugas upacara menjalani latihan rutin, mulai dari pembentukan kemampuan perorangan hingga pemantapan kesiapan dalam menjalankan tugas.
Latihan tersebut mendapat pendampingan dari personel Koramil Lengkong. Untuk memastikan kesiapan mereka, sehari sebelum pelaksanaan upacara, seluruh petugas mengikuti gladi bersih sebagai tahap akhir persiapan, “Latihan diawali dengan drill perorangan sejak pekan sebelumnya. Tahapan kemudian dilanjutkan dengan gladi bersih hingga pelaksanaan upacara,” ujar Pelda Wariyono dari Koramil Lengkong.
Menurut Pelda Wariyono, kedisiplinan para santri masih perlu terus ditingkatkan agar pelaksanaan tugas ke depan semakin baik. Dalam upacara tersebut, Ketua Ponpes Millenium Alfiena, KH Didik Suprapto, bertindak sebagai inspektur upacara. Kegiatan upacara bendera juga turut dihadiri perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Lengkong, yang terdiri dari unsur pemerintah kecamatan, TNI dan Polri. Hadir pula perwakilan unsur pendidikan, tenaga kesehatan, serta organisasi kemasyarakatan.
Dalam amanatnya, KH Didik Suprapto mengajak para santri merefleksikan perjalanan Pancasila sebagai dasar negara yang telah menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan sejarah, termasuk peristiwa tahun 1948 dan 1965. Ia menegaskan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pengingat agar nilai-nilai Pancasila terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penekanan khusus diberikan pada sila ketiga, Persatuan Indonesia. Menurut Didik, keberagaman asal daerah, suku, dan latar belakang para santri harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, bukan menjadi alasan terjadinya perpecahan, “Para santri harus menjaga kerukunan, kekompakan, dan kerja sama. Jangan sampai perbedaan suku, ras maupun asal-usul menjadi alasan untuk melakukan perundungan,” pesannya.
Didik menjelaskan, Ponpes Millenium Alfiena memiliki program 29 Karakter Luhur sebagai bagian dari upaya menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari para santri. Prakteknya dilakukan melalui berbagai pembiasaan, antara lain hidup rukun antarsantri, menjaga kekompakan dalam kegiatan pondok, serta membangun kerja sama yang baik antara santri, ustaz, guru, dan pengurus.
Melalui pembiasaan tersebut, nilai persatuan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman secara teori, tetapi tumbuh menjadi karakter yang diterapkan dalam kehidupan bersama di lingkungan pesantren.
Meski cuaca cukup panas pada pagi hari, para santri tetap mengikuti seluruh rangkaian upacara hingga selesai dengan tertib dan penuh semangat. Salah seorang santri, Aufa, mengaku keterlibatannya dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kegiatan itu sekaligus menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat mengikuti berbagai kegiatan di pondok.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Ponpes Millenium Alfiena pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan. Persiapan melalui latihan, pendampingan, hingga pelaksanaan langsung oleh para santri menjadi wahana pembelajaran tentang disiplin, tanggung jawab, dan persatuan. Semangat tersebut sejalan dengan pesan utama peringatan tahun ini, bahwa menjaga persatuan bangsa dapat dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk melalui kehidupan sehari-hari para santri di pesantren.









