Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono menggelar sesi kedua psikologi pendidikan. Pemaparan tersebut ditujukan bagi wali murid dan generasi muda usia pra-remaja hingga remaja, pada Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang menghadirkan motivator sekaligus psikolog pendidikan Akmaludin Akbar itu, menitikberatkan pada penguatan komunikasi keluarga, pemahaman terhadap karakter anak, serta pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi perkembangan anak-anak mereka.
“Kalau kalian merasa sumpek, merasa tidak bahagia, bingung, dan merasa kesusahan, barangkali karena kalian belum meminta doa kepada orang tua. Terkadang kita punya banyak keinginan dan cita-cita, tetapi lupa meminta doa kepada mereka,” tutur Akmaludin.
Ia mengatakan, rida Allah berkaitan dengan rida orang tua. Ia mengingatkan, jangan sampai hanya bersungguh-sungguh mengejar keinginan sendiri, tetapi mengabaikan hubungan dan doa orang tua.
Ia kemudian menyoroti fenomena fatherless yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan generasi Z. Menurutnya, persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga dapat muncul ketika anak tidak memperoleh keterlibatan emosional yang memadai.
Situasi ini tercermin dalam kehidupan keluarga yang tampak ramai, tetapi minim interaksi karena setiap anggota sibuk dengan telepon genggam masing-masing, “Rumah bisa saja ramai, semua anggota keluarga berkumpul, tetapi suasananya tetap terasa sepi ketika tidak ada komunikasi yang benar-benar terjalin,” papar Akmal yang juga Ketua DPP LDII itu.
Ia menggambarkan, anggota keluarga mungkin berada di tempat yang sama, tetapi sibuk dengan HP masing-masing. Padahal, yang membuat waktu bersama keluarga menjadi berkualitas bukan sekadar berapa lama mereka berada di rumah, melainkan bagaimana berkomunikasi dan memberikan perhatian kepada anak.
Akmaludin menekankan komunikasi yang efektif tidak harus dibangun melalui agenda khusus. Orang tua dapat memanfaatkan momen sederhana, seperti saat bepergian, makan bersama, menjelang tidur, atau bermain dengan anak, “Dalam suasana tersebut, orang tua dapat membuka percakapan, mendengarkan cerita, serta memahami kebutuhan emosional anak tanpa membuat mereka merasa sedang diinterogasi,” ungkapnya.
Pembahasan kemudian mengarah pada cara orang tua memahami perilaku anak. Akmaludin mengingatkan penilaian yang tergesa-gesa dapat membuat orang tua luput melihat faktor di balik perilaku anak, termasuk pola komunikasi dan pengasuhan di rumah.
“Buah jatuh tidak akan jauh dari tangkainya. Jadi, ketika kita melihat perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan, jangan langsung bertanya mengapa anak kita bisa seperti itu, lalu menyalahkannya,” tuturnya.
Ia mendorong para orang tua bercermin dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Tugas orang tua bukan sekadar menilai, tetapi juga memahami anak dan mencari cara agar hubungan di antara keduanya tetap terjaga.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan sudut pandang kerap memicu kesalahpahaman antara orang tua dan anak. Padahal, orang tua pada umumnya menginginkan kehidupan anak yang lebih baik, daripada yang pernah mereka jalani.
Namun, harapan tersebut tidak selalu tersampaikan dengan cara yang dapat diterima anak. Karena itu, komunikasi dua arah diperlukan agar kedua belah pihak dapat mengutarakan keinginan, memahami alasan di balik suatu keputusan, dan menghindari prasangka yang merenggangkan hubungan keluarga.
Di sisi lain, Akmaludin mengingatkan, agar tetap berbuat baik kepada orang tua meskipun terdapat perbedaan pendapat atau ketidakcocokan. Ia mengangkat kisah Juraij sebagai pengingat mengenai pentingnya memperhatikan orang tua dan tidak meremehkan kedudukan doa mereka.
Menurutnya, ikhtiar meraih cita-cita perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga hubungan baik, serta memohon doa orang tua, “Jangan sampai kita merasa mampu meraih apa pun hanya dengan usaha sendiri, tetapi melupakan doa orang tua,” ungkapnya.
Ia mengingatkan sebesar apa pun cita-cita yang dimiliki, tetaplah menjaga hubungan dengan mereka, “Jangan biarkan perbedaan pendapat membuat kita membenci orang tua, sebab berbuat baik kepada mereka tetap menjadi kewajiban yang harus kita jaga,” pesannya.

Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany menyampaikan refleksi mengenai etika dan seni dalam menyampaikan nasihat. Ia menekankan bahwa kekuatan sebuah materi tidak hanya terletak pada referensi yang digunakan, tetapi juga pada penghayatan dan ketulusan penyampainya.
“Materi yang disampaikan tidak hanya merujuk pada referensi yang kita pelajari. Materi akan lebih menyentuh apabila kita mampu menghayatinya dan menyampaikannya dengan tulus, dari hati,” ujarnya berbagi kiat.
Menurutnya, penghayatan itulah salah satu etika dan seni dalam memberikan nasihat. Nasihat akan lebih mudah menyentuh dan diterima ketika untaian kalimat serta inti pesannya tumbuh dari diri sendiri, terutama dari pengalaman penyampainya.
Pelaksanaan sesi kedua ini menghadirkan wali murid bersama anak-anak mereka dalam satu forum, sehingga materi dapat didengar oleh kedua belah pihak secara langsung. Pola tersebut membuka ruang bagi orang tua dan anak untuk memperoleh pemahaman yang sama mengenai pentingnya komunikasi, penghargaan, dan saling pengertian dalam keluarga.









