Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono membekali para juru dakwah dan pendidik yang mengajar di ponpes tersebut. Kegiatan yang dihelat di Wisma Abdul Dhohir, kompleks Ponpes Al Ubaidah pada Rabu (28/10/2026) tersebut, menghadirkan motivator sekaligus psikolog pendidikan Akmaludin Akbar.
Materi dari Akmal yang juga Ketua DPP LDII itu, berfokus pada penguatan kualitas guru dalam mengelola diri, memahami karakter murid, dan membangun proses pembelajaran yang efektif, “Modal kita agar bisa dekat dengan murid adalah senyum. Maka, belajarlah untuk selalu tersenyum,” ungkap Akmaludin dalam pemaparannya.
Ia menekankan kedekatan antara pendidik dan murid menjadi salah satu unsur penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran. Karena itu, guru perlu mengembangkan kecakapan interpersonal, selain menguasai materi yang disampaikan. Menurutnya, sebelum membangun hubungan dengan murid, para pendidik ataupun juru dakwah harus mengenali dan mengelola diri. Ia menyoroti kebiasaan menjadikan validasi orang lain dan kepemilikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan.
Menurutnya, kecenderungan membandingkan diri dapat membuat seseorang mengabaikan potensi yang dimiliki dan kehilangan rasa syukur. Ia juga mengingatkan para muballigh dan muballighoh agar tidak merasa memiliki kedudukan lebih rendah daripada orang lain, sebab setiap individu mempunyai kelebihan yang dapat memberikan manfaat bagi sesama.
Ia turut menjelaskan bahwa keberkahan harta tidak semata-mata ditentukan oleh kuantitas, tetapi juga kualitas dan kemanfaatannya. Pandangan tersebut menjadi pengingat bagi para pendidik, agar tidak terjebak dalam ukuran keberhasilan yang bersifat material, melainkan mampu menghargai potensi diri dan memaksimalkan peran yang dimiliki.
Berangkat dari pengelolaan diri, pembahasan berlanjut pada cara pendidik memperlakukan murid dalam proses pembelajaran. Akmaludin menegaskan pengondisian kelas merupakan bagian integral dari pendidikan yang tidak boleh dikesampingkan. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang kondusif melalui pendekatan yang ramah, pemberian apresiasi, serta penghargaan terhadap proses perkembangan murid, bukan semata-mata berorientasi pada hasil akhir.
Untuk mendukung penerapan pendekatan tersebut, guru juga harus terus mengasah keterampilan mengajar melalui evaluasi dan latihan, “Microteaching menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembangkan kompetensi pendidik. Melalui praktik mengajar dan umpan balik antarguru, peserta dapat mengidentifikasi kelebihan, mengevaluasi kekurangan, serta memperbaiki metode penyampaian materi secara berkelanjutan,” imbuh Akmal.
Dalam pembekalan tersebut, ia turut membagikan pengalaman pribadinya dalam membangun kepercayaan diri setelah mengalami perundungan selama empat tahun. Ia mengaku pernah merasa takut ketika melihat dirinya sendiri di depan cermin. Untuk mengatasi ketakutan tersebut, ia berlatih berbicara di depan cermin sekaligus menasihati dirinya sendiri. Pengalaman itu menunjukkan bahwa keberanian dan kemampuan berkomunikasi dapat diasah melalui latihan serta kesediaan menghadapi keterbatasan diri.
Materi yang disampaikan turut memberikan perspektif baru bagi Rebecca Tabitha Zuhri, guru putri kelas 1 dan 2 SD. Ia mengungkapkan bahwa pengondisian murid dan pengendalian kesabaran masih menjadi tantangan dalam kegiatan mengajar. “Salah satu kendala saya dalam mengajar adalah cukup sulit mengondisikan murid dan menjaga kesabaran. Melalui pembekalan ini, saya mendapatkan wawasan baru tentang cara mengelola diri dan menerapkan metode pengondisian kelas,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi yang menghimpun pendapat dan sudut pandang para guru. Forum tersebut membuka ruang bagi peserta untuk merefleksikan pengalaman mengajar, mengenali potensi diri, serta menelaah dampak dari berbagai pendekatan yang diterapkan dalam mendidik murid.

Ponpes Al Ubaidah berharap materi psikologi pendidikan tersebut, dapat memperkuat kompetensi profesional sekaligus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih komunikatif dan apresiatif. Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang juga mendukung perkembangan karakter murid.









