Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono menggelar keterampilan keorangtuaan (parenting skill) bagi wali murid KB Choirul Huda, TK Tarbiyah Al Ubaidah, dan SD Al Ubaidah di Wisma Abdul Dhohir, di kompleks pondok pesantren tersebut. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026) itu, mengangkat tema “Optimalisasi Peran Orang Tua dalam Mendampingi Tumbuh Kembang Buah Hati Tercinta”.
Kegiatan tersebut menghadirkan psikolog Sovia Sahid untuk mengulas komunikasi, afeksi, dan pengendalian emosi sebagai bagian penting dalam pengasuhan anak. Menurut Sovia, pujian dan pelukan merupakan stimulasi sosioemosional yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan sosial anak, memahami emosinya, serta berinteraksi dengan orang lain,” ujarnya.
Namun, jika orang tua tidak terbiasa melakukannya, mereka bisa menggunakan caranya sendiri dan mengomunikasikannya kepada anak. Orang tua perlu menyampaikan keterbatasannya, agar anak tidak mencari tahu sendiri dan tidak kebingungan memahami bentuk kasih sayang yang diterimanya.
Dalam pemaparannya, Sovia menyoroti pentingnya komunikasi terbuka ketika orang tua menghadapi perbedaan harapan dengan anak. Setiap orang tua memiliki aspirasi terhadap masa depan buah hatinya, tetapi anak juga perlu memperoleh ruang untuk mengutarakan keinginan dan mempertimbangkan pilihan hidupnya. Dialog menjadi jembatan bagi kedua belah pihak, untuk saling memahami pandangan tanpa mengesampingkan aspirasi anak.
Ia mencontohkan orang tua yang berharap anaknya menjadi mubalig atau juru dakwah. Alih-alih memaksakan kehendak, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai peran pendakwah, keutamaan dakwah, serta proses dan pengorbanan yang menyertainya. Melalui dialog tersebut, anak dapat memahami harapan orang tua sekaligus menyampaikan cita-citanya sendiri. Jika keduanya masih memiliki pandangan berbeda, komunikasi perlu terus dibangun untuk menemukan titik temu.
Selain komunikasi, pengendalian emosi turut menjadi tantangan dalam mendampingi anak. Rima Puspita Sari, wali murid kelas TK B Tarbiyah Al Ubaidah, mengungkapkan tantangan terbesar dalam pengasuhan bukan semata-mata penggunaan gawai, melainkan kemampuan orang tua mengelola emosi ketika menghadapi perilaku anak. Situasi ketika anak mengamuk atau menginginkan sesuatu yang belum dapat dipenuhi kerap menguji kesabaran dan kejernihan berpikir orang tua.
“Tantangan terbesar dalam menghadapi anak zaman sekarang, selain gawai, adalah emosi diri sendiri. Poin yang paling mengena bagi saya adalah ilmu ketenangan. Kunci dalam merawat dan membersamai anak adalah ketenangan,” ujar Rima.
Ia berencana menerapkan ilmu tersebut dalam keseharian dengan melatih diri mengendalikan emosi sebelum merespons perilaku anak. Menurutnya, ketenangan membantu orang tua menyikapi berbagai situasi pengasuhan secara lebih bijaksana tanpa terburu-buru meluapkan kemarahan di hadapan anak.

Melalui kegiatan ini, orang tua diajak memperkuat komunikasi, mengekspresikan kasih sayang sesuai kemampuan, serta mengelola emosi ketika mendampingi buah hati. Pemahaman tersebut menjadi bekal untuk membangun pola pengasuhan yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional dan perkembangan anak.









