Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur menghadiri kegiatan bedah buku, berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII” karya cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Ahmad Ali. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, pada Minggu (10/5/2026).
Buku tersebut ditulis sebagai upaya meluruskan berbagai informasi yang kurang tepat mengenai LDII. Sekaligus menghadirkan gambaran yang lebih utuh berdasarkan fakta di lapangan.
Dalam kegiatan itu, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Abdullah Syamsul Arifin, menekankan pentingnya komunikasi yang baik dalam kehidupan berorganisasi. Menurutnya, hubungan yang harmonis antarlembaga dapat tercipta melalui dialog dan saling memahami.
“Sebagai manusia yang terlibat dalam organisasi harus menjalin komunikasi yang baik. Ada beberapa fakta miring terkait LDII yang ingin kita tepis,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof. Biyanto, mengapresiasi hadirnya buku tentang LDII, yang ditulis oleh cendekiawan NU. Ia menilai bedah buku tersebut menjadi langkah elegan, dalam mengedukasi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antarorganisasi.
“Setiap organisasi memiliki kekhasan masing-masing. Di NU banyak pesantren, di Muhammadiyah banyak sekolah, kalau di LDII luar biasa dalam berorganisasi. Semua punya kontribusi masing-masing untuk mewujudkan generasi emas Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap organisasi harus saling mengenal, memahami, serta membangun sikap tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat, “Yang terpenting kita harus saling mengenal, memahami, dan saling tolong-menolong serta memaafkan,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Humas Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Abdul Khohar, yang turut hadir dalam kegiatan itu menyampaikan pentingnya sinergi antarorganisasi kemasyarakatan (Ormas), untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan kondusif.
“Dalam kehidupan bermasyarakat kita wajib menciptakan suasana yang nyaman. Salah satu kiatnya, setiap ormas harus memiliki rasa toleransi dalam kehidupan,” terangnya.

Melalui kegiatan bedah buku yang melibatkan berbagai organisasi keagamaan di Indonesia tersebut, diharapkan dapat tumbuh semangat toleransi, saling menghargai, serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat sehingga tercipta kehidupan yang rukun dan kondusif.









