Puluhan pendekar silat dari berbagai perguruan di Kecamatan Kertosono memeriahkan kirab budaya yang digelar di Desa Pelem, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Dengan balutan seragam khas masing-masing perguruan, mereka tampil mengiringi arak-arakan budaya yang menjadi bagian dari agenda tahunan masyarakat setempat.
Pawai budaya yang dihelat pada Minggu (14/6/2026) ini telah lama menjadi ruang kebersamaan bagi warga Desa Pelem dan sekitarnya. Tahun ini, kehadiran para pesilat menghadirkan warna tersendiri melalui atraksi dan koreografi yang menyatu sepanjang jalannya kirab.
Barisan pesilat itu dipimpin oleh pelatih Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) wilayah Kertosono, Yayak Agus Subiantoro. Menurutnya, keterlibatan berbagai perguruan dalam satu barisan bukan sekadar untuk memeriahkan acara, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarpesilat, “Pada kesempatan ini yang tampil berasal dari berbagai perguruan silat se-Kertosono. Mereka berbaur menjadi satu mengiringi jalannya acara,” ujarnya.
Yayak menuturkan, perbedaan aliran silat justru menjadi kekuatan yang melahirkan harmoni gerakan. Melalui latihan dan koordinasi bersama, para pendekar berhasil menyuguhkan penampilan yang memikat di hadapan masyarakat, “Kami mempersatukan aliran perguruan silat untuk bergerak, berkoordinasi, serta berkoreografi sehingga menghasilkan satu gerakan pencak silat yang indah,” ungkapnya.
Bagi para peserta, keterlibatan dalam kirab budaya ini juga menjadi pengalaman yang membanggakan. Salah satunya dirasakan Muhammad Rama, pesilat dari Persinas ASAD yang turut tampil iringan pawai tersebut, “Alhamdulillah, menjadi suatu kebanggaan bagi saya. Setelah berlatih dalam kurun waktu yang cukup singkat, saya bisa dipercaya tampil di hadapan ribuan warga Kertosono,” tuturnya.

Iringan para pesilat yang menampilkan koreografi tersebur membawa pesan tentang persatuan di tengah keberagaman. Seragam yang berbeda-beda tampak menyatu dalam satu barisan, bergerak menuju tujuan yang sama, “Di sini yang tampil berasal dari berbagai aliran perguruan silat. Mereka mengenakan seragamnya masing-masing, itu membuat warna-warni barisan tampak menyatu untuk tujuan yang sama, NKRI harga mati,” pungkas Yayak.









