Suasana Minggu pagi (19/4/2026) di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah tampak berbeda dari biasanya. Puluhan generasi penerus putri berkumpul. Kali ini mereka tampak fokus dan penuh konsentrasi, bukan untuk mengkaji kitab, melainkan mengasah ketelatenan tangan melalui pelatihan menyulam taplak meja.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan kemandirian generasi penerus putri. Di tengah era digital yang serba cepat, Ponpes Al Ubaidah memilih tetap melestarikan keterampilan tangan (craftsmanship) sebagai bekal hidup bagi para generasi penerus perempuan di masa mendatang.
Pelatihan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung dengan penuh antusias. Helai demi helai benang berwarna mulai dirangkai membentuk motif bunga yang indah di atas kain putih. Instruktur pelatihan, Eny Dwi Utami, menyampaikan bahwa menyulam bukan sekadar membuat hiasan meja, tetapi juga menjadi sarana melatih kesabaran, ketelitian, dan ketekunan. “Menyulam mengajarkan santriwati tentang ketelitian dan ketekunan. Satu tusukan yang salah bisa merusak pola, sama halnya dengan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Selain membentuk karakter, kegiatan ini juga diproyeksikan sebagai bekal ekonomi kreatif. Hasil karya para generasi penerus diharapkan memiliki nilai jual sehingga dapat menjadi sarana kemandirian finansial saat mereka terjun ke masyarakat kelak. Salah satu peserta, Daysti Nur Afiani Putri Agustin, menilai pelatihan tersebut membuka peluang usaha, terutama jika dipadukan dengan promosi melalui media sosial.
“Ini bisa jadi peluang bisnis, karena kita bisa membuat produk sulam yang estetik, lalu dipromosikan lewat konten kreatif di media sosial supaya nilai jualnya semakin naik,” tuturnya.










