Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Budi Utomo Kertosono Boarding School menggelar acara lepas kenang siswa pada Rabu (22/4/2026). Seremoni acara tersebut berlangsung di halaman Pondok Pesantren Al Ubaidah 2, Kudu, Nganjuk, Jawa Timur.
Menurut Kepala SMK Budi Utomo Kertosono, Didik Suprapto, acara yang mengusung tema Increase: Fly High to the Sky, siswa angkatan 2023–2026 menunjukkan semangat juang untuk menatap masa depan, “Layaknya burung garuda yang terbang tinggi menembus luasnya langit. Tema ini menjadi simbol harapan agar para lulusan mampu melangkah percaya diri dan meraih cita-cita,” ujar Didik Suprapto.
Ia menegaskan bahwa generasi muda saat ini perlu dibekali ilmu agama sebagai fondasi utama sebelum menghadapi kerasnya kehidupan di masa mendatang, “Di sini kami tidak hanya mencetak generasi yang unggul dalam ilmu keduniaan, tetapi juga melahirkan penerus bangsa yang dibekali ilmu agama sebagai benteng saat terjun ke kehidupan nyata,” jelas Didik.
Didik menambahkan, sekolah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan demi mencetak lulusan yang siap bersaing dan berdaya juang tinggi. Sementara itu, Dewan Penasihat Yayasan Budi Utomo, Achmad Fawwaz, menyampaikan bahwa pihak sekolah senantiasa melakukan pembenahan, baik dari sisi sarana maupun prasarana, demi menciptakan kenyamanan belajar bagi siswa, “Insya Allah kami terus berupaya melakukan perbaikan, baik sarana maupun prasarana, yang terpenting adalah bagaimana siswa merasa nyaman dalam belajar,” ujarnya.
Fawwaz berharap lulusan SMK Budi Utomo Kertosono mampu menjadi pribadi kreatif, mandiri, serta dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan, “Harapan kami, bekal yang diperoleh di sini tidak berhenti sampai hari ini saja, tetapi dapat dibawa ke masa depan untuk menjadi insan yang kreatif dan mandiri,” tambahnya.
Salah satu perwakilan siswa, Muhammad Shaquelle Gibran Gazala menyampaikan rasa bangganya telah menjadi bagian dari keluarga ini. Ia menegaskan peran pengajar dan pengasuh yayasan sangat krusial dalam mendampinginya selama masa pendidikan, “Tempat ini bukan hanya sekolah, tetapi rumah kedua bagi kami. Berat rasanya berpisah, namun kami siap melangkah membawa nama baik almamater, terima kasih atas juangnya, para pahlawan tanpa tanda jasa,” ungkap Gibran dalam rintik sedu yang memecah haru peserta.
Acara lepas kenang tersebut bukan menjadi penanda berakhirnya sebuah masa, namun ini menjadi pijakan awal perjalanan baru bagi para siswa untuk menatap masa depan dengan bekal ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai keislaman.









