Perhelatan Munas X LDII pada hari kedua, Rabu (8/7/2026) menghadirkan Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siradj. Mengomentari dinamika geopolitik yang sedang bergejolak, ia mengajak warga negara Indonesia untuk bersyukur karena Indonesia berada dalam kondisi stabil.
“Alhamdulillah Indonesia dalam keadaan stabil, rukun, dan kompak. Adapun ada perbedaan itu wajar dan pasti ada, namun perbedaan antarormas bukan pada prinsip,” ujarnya di hadapan para peserta Munas X LDII.
Said menambahkan, semua umat Islam wajib berdakwah dengan dakwah bil hikmah melalui pendekatan yang bijak, dakwah dengan ucapan yang baik dan dialog yang berkualitas. “Alhamdulillah umat Islam di Indonesia sudah menjalankan itu,” katanya.
Menanggapi pernyataan KH Said, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyampaikan dukungannya terhadap pesan Said Aqil Siradj yang menegaskan bahwa setiap organisasi kemasyarakatan (Ormas) memiliki tanggung jawab dalam menjalankan dakwah secara bijak.
Pernyataan tersebut merespons pemaparan KH Said Aqil Siradj dalam forum Munas X LDII yang mengajak ormas Islam mengedepankan dakwah dengan pendekatan hikmah, dialog yang baik, serta menjaga persatuan bangsa. Habib Ubaidillah menilai, dakwah yang bijak menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial, terutama di tengah dinamika global dan potensi konflik yang bisa merembet ke dalam negeri.
“Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan kebenaran, tetapi harus dilakukan dengan cara yang bijak, menyejukkan, dan mampu merangkul semua pihak. Ini penting agar masyarakat tidak mudah terpecah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pesan KH Said Aqil relevan dengan kondisi saat ini, di mana perbedaan sering kali disalahgunakan menjadi sumber konflik. Menurutnya, pendekatan bil hikmah harus menjadi pedoman utama ormas dalam berdakwah.
Lebih lanjut, Habib Ubaidillah menyoroti pentingnya pembangunan kualitas umat melalui pendidikan dan penguatan karakter. Hal ini sejalan dengan pesan KH Said Aqil yang mendorong lahirnya generasi muda berilmu, memiliki keterampilan, serta mampu berkontribusi bagi kesejahteraan umat.
“Pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan memiliki wawasan kebangsaan,” tambahnya.
Ia berharap organisasi seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia dapat terus menjadi pelopor dalam dakwah yang damai, sekaligus berkontribusi dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu dan akhlak. Menurutnya, sinergi antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah tantangan global, “Jika dakwah dilakukan dengan hikmah dan dilandasi ilmu, maka bukan hanya umat yang kuat, tetapi juga bangsa akan semakin kokoh,” pungkasnya.









