Dakwah bukan hanya tentang menyampaikan pesan kebaikan, tetapi juga bagaimana seorang da’i mampu menjadi teladan bagi orang yang diajaknya. Pesan tersebut disampaikan perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk, Sutrisno saat memberikan Materi 5 Pilar Kebangsaan, pada Senin (21/9/26).
Dalam materinya, Sutrisno mengingatkan bahwa seorang dai semestinya terlebih dahulu melakukan dan merasakan apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Dengan demikian, pesan dakwah tidak hanya berhenti pada lisan, tetapi juga tercermin melalui sikap dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, “Seorang dai perlu turut serta dalam kebaikan yang disampaikan sehingga apa yang menjadi ajakan dakwah dapat menjadi bahan refleksi bagi diri sendiri sekaligus memberikan kesan bagi audiens,” tutur Sutrisno.
Ia menekankan, Islam itu mengajak bukan menginjak-injak. Islam merangkul bukan memukul. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri yang dipersiapkan sebagai calon dai, agar mampu menghadirkan dakwah yang santun dan dekat dengan masyarakat. Dakwah tidak hanya dilakukan dengan menyampaikan ajaran, tetapi juga melalui keteladanan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengajak umat kepada kebaikan.
Sementara itu, Edwinda Arun Al Fauzi, salah satu santri sekaligus calon dai, menyambut baik materi yang disampaikan. Ia mengaku senang mendapatkan tambahan wawasan mengenai dakwah dan berharap pembekalan serupa dapat dilaksanakan secara rutin, “Saya sangat senang mendapat ilmu dakwah yang telah disampaikan. Harapannya materi seperti ini bisa ada setiap bulan, agar para santri mendapat ilmu yang lebih banyak,” ungkap Edwinda.

Melalui materi tersebut, para santri kembali diingatkan bahwa seorang dai bukan hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga mampu menjadi contoh dari kebaikan yang disampaikannya. Dengan dakwah yang mengajak dan merangkul, pesan kebaikan diharapkan dapat diterima dan dirasakan oleh masyarakat.









